
source: Godspeaks book
Ke arah manakah hubungan ini? -Tuhan
Tetap kontak
Ashley menggapai foto besar Eric di sampng tempat tidurnya. Seperti yang dia lakukan setiap malam, dia mencium lembut kaca yang menutupi foto di bagian bibir Eric dan berbisik, "Selamat tidur, Eric."
Ashley menelungkupkan foto itu di balik selimutnya, memikirkan Eric, yang baru saja kuliah di sebuah universitas di California. "Aku hanya punya satu fotonya, tapi dia mengirimi aku surat setiap hari. Dia juga meneleponku seminggu sekali. Itu adalah hal terbaik dalam hidupku- mendengar suaranya. Seandainya dia tidak jauh dari aku!"
Ashley mengambil napas dalam-dalam dan memejamkan matanya, "Tuhan sertailah Eric dan semua umatMu di mana pun mereka berada." Dengan lembut Ashley menggumamkan kata "Amin", lalu mengambil posisi tidur favoritnya.
Ketika alarm berbunyi, Ashley bangun, mematikannya, duduk, lalu memandangi foto Eric. "Selamat pagi," dia mencium foto Eric lagi. "Semoga hari ini menjadi hari yang baik dan jangan lupakan aku! Aku akan memikirkanmu sepanjang hari."
Ashley memakai baju dengan cepat dan membaca kembali surat Eric yang terakhir. Suara Eric seolah terngiang-ngiang di telinganya. Dia mengembalikan surat itu ke tempatnya semula, di meja kecil di sisi tempat tidur.
Selanjutnya di loker, Ashley tersenyum kepada fotonya bersama Eric yang dia tempel di sebelah dalam pintu lokernya. Itu merupakan hari terakhir sebelum Eric pergi kuliah di kota lain, dan mereka berdua tersenyum sambil bergandengan tangan.
"Hai, Ashley. Kulihat kamu masih suka memandangi foto itu."
Ashley membalikkan badannya, dan melihat Shelly, sahabatnya yang anak pendeta, mendekat.
"Ini foto terakhirnya!" kaa Ashley membela diri. "Foto ini mengingatkan aku pada apa yang saling kami katakan pada hari terakhir. Kami berjanji untuk saling menjalin kontak, sehingga tidak ada yang bisa memisahkan kami."
Shelley mengangguk. "Aku tahu. Kamu selalu membicarakan Eric!"
"Apakah kamu mau berkata aku seharusnya melupakannya karena dia sudah kuliah sedangkan aku masih SMU?"
"Aku tidak menyuruhmu melupakannya," kata Shelley pelan. "Aku hanya berpikir seharusnya kamu tidak membiarkannya merampas seluruh hidupmu! Minggu kemarin kamu tidak datang ke persekutuan remaja karena Eric mau meneleponmu. Aku tahu dia tidak tahu kita mengubah hari, tetapi dia kan bisa menelpon kembali. Dan kamu tidak ingin membantu mengecat ruang Sekolah Minggu di gereja karena malam itu kamu harus menulis surat kepada Eric. Dan kamu berkata kamu tidak yakin akan hadir dalam acara studi Alkitab yang akan dimulai ayahku malam ini. sepertinya duniamu dipenuhi oleh Eric!"
"Sekarang bicaramu seperti orangtuaku! Atau seperti orangtuamu!"
"Menjadi anak pendeta bukan berarti membuatku berbeda."
"Aku tahu., Maaf. Tapi teganya kamu bilang Eric sudah merampas seluruh hidupku! Kami kan sudah saling berjanji untuk saling menjalin kontak."
"Oke. Maaf," kata Shelley. "Kamu adalah sahabatku, tetapi akhir-akhir ini yang ada di pikiranmu hanya Eric, bahkan Tuhan pun tidak kaupedulikan!"
Suara deringan bel memotong pembicaraan mereka. Ashley cepat-cepat berjalan ke arah yang satu, sementara Shelley berjalan ke arah yang berlawanan.
Ashley mecnoba melupakan pembicaraan itu. Siangnya, Ashley membawa baiknya melewati kafetaria yang ramai menuju meja tempat teman-temannya selalu duduk. Semua orang makan kecuali Debbie, yang hanya duduk memandangi piringnya.
"Kakakku meneeponku semalam dari kamp pelatihan," kata Debbie. "Dia dan pacarnya putus. Mereka baru saja berpisah. Kata kakakku, itu karena mereka saling berjauhan. Aku lebih sedih daripada kakakku. Aku benar-bear menyukai pacar kakakku itu."
Ashley melirik ke arah Shelley. Dia tahu apa yang sahabatnya itu pikirkan, tapi dia salah! "Itu tidak akan terjadi padaku dan Eric! Kami akan selalu selalu menjalin kontak! Kami menulis surat setiap hari, dan dia juga sering meneleponku."
"Tetapi, itu tidak selalu berhasil." Cewek lain berhenti makan. "Kakakku menulis surat setiap hari kepada pacarnya ketika pacarnya itu mengikuti program pertukaran pelajar di Brasil. Mengirimnya foto dan makanan. Tetapi tetap saja mereka putus ketika pacarnya itu kembali. Kamu tidak akan pernah tahu."
"Ya, kamu benar!" sahut cewek lain. "Saudara sepupuku dan pacarnya...."
Sekarang setiap orang berbicara tentang pasangan-pasangan yang sudah putus. Setiap orang sepertinya punya setidaknya satu contoh. Ashleyu berusaha tidak mendengarkan cerita-cerita itu. Dia berkata pada dirinya sendiri bahwa itu pengalaman orang lain, tidak ada hubungannya dengan dia dan Eric. Itu tidak akan terjadi pada dia dan Eric asalkan mereka saling menjalin kontak dengan rutin. Dengan melakukannya, hubungan mereka akan baik-baik saja.
Di penghujung siang itu Ashley yakin dia dan Eric adalah pasangan yang berbeda. Maka ketika dia bertemu dengan Shelley di loker mereka, kepercayaan dirinya muncul kembali.
"Kamu sudah memikirkan ulang untuk datang ke acara studi Alkitab malam ini?" tanya Shelley, sambil mengambil buku-buku dari rak. "Kurasa tidak bayak yang datang, hanya orang-orang yang ingin tetap menjalin kontak dengan Tuhan."
"Aku belum tahu," kata Ashley. "PR-ku banyak, dan malam ini aku harus menulis surat untuk Eric. Ada banyak hal yang harus kubicarakan.
"Pertimbangkan lagi, ya. Mungkin kamu bisa mengerjakan PR-mu sebelum makan malam dan menulis surat untuik Eric setelah studi Alkitab. Acaranya cuma satu jam, kok."
"Aku nggak janji." Ashley membawa buku-bukunya dan berlari menuju bus, berharap busnya jalannnya cepat sehingga dia bisa segera melihat apakah ada surat dari Eric atau tidak.
Setibanya di rumah, Ashley menelan kekecewaannya ketika tidak ada surat yang menunggunya.
Aku akan menelepon Shelley sekarang, dan memberitahunya bahwa aku tidak ikut studi Alkitab. Aku harus menulis surat untuk Eric malam ini; aku tidak ingin kehilangan kontak dengannya!
Ashley masuk ke kamarnya, tetapi ketika megambil kertas untuk memulai surat kepada Eric, dia melihat Alkitabnya. Tiba-tiba kata-kata Shelley tentang studi Alkitab muncul kembali. Hanya orang-orang yang ingin tetap menjalin kontak dengan Tuhan.
Aku berjanji untuk terus menjalin kontak dengan Eric, pikir Ashley,
dan aku sudah berusaha keras untuk melakukannya. Tapi aku juga berjanji untuk tetap dekat dengan Tuhan, dan aku belum melakukan banyak hal untuk itu akhir-akhir ini. Aku belum berbicara kepada Tuhan, belum betul-betul berbicara kepada Dia. Aku bahkan belum memikirkan Dia sepanjang hari ini!
Ashley berhenti dan mengambil foto Eric, "Aku pikir kita bisa saja putus, orang-orang juga mengalaminya. Lagipula kita masih terlalu muda untuk berbicara tentang pernikahan. Jika kita putus, kita kaan bisa mengatasinya, tetapi jika putus dengan Tuhan...."
Ashley mengambil Alkitabnya. Aku akan menelepon Shelley dan memintanya menyisihkan satu tempat duduk untukku malam ini, pikir Ashley.
Kemudian, aku akan menulis surat kepada Eric tentang semuanya ini dan alasan mengapa aku ikut studi Alkitab. Dia pasti akan mengerti!
Maka sekarang anak-anakku, tinggalah di dalam Kristus, supaya apabila Dia menyatakan diriNya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatangan-Nya
1 Yohanes 2:28
Pesan Tuhan:
Untuk memelihara hubunganmu denganKu, kamu harus berkomitmen untuk memberikan waktu, energi, dan perhatian.